Bisnis 2 menit baca 10 dilihat

Perang Iran-AS Ganggu Ekspor Kelapa Sawit Indonesia

Arumi Nasha Razeta
11 March 2026 17:49 WIB

11 Mar 2026 - Konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat yang memicu ketegangan di kawasan Teluk Persia mulai berdampak pada perdagangan global, termasuk potensi gangguan terhadap ekspor minyak kelapa sawit (CPO) Indonesia. Pemerintah menyatakan situasi geopolitik tersebut dapat mempengaruhi rantai pasok dan biaya logistik internasional, terutama jika jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz terganggu.

Kementerian Keuangan menyatakan terus memantau perkembangan konflik yang meningkat sejak akhir Februari 2026 karena kawasan tersebut merupakan jalur penting bagi perdagangan dunia. Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan eskalasi konflik berpotensi memicu gangguan pada rantai pasok energi global serta meningkatkan volatilitas pasar keuangan dan biaya logistik perdagangan.

Gangguan terhadap jalur distribusi internasional dinilai dapat berdampak pada ekspor komoditas utama Indonesia, termasuk minyak kelapa sawit yang selama ini menjadi salah satu kontributor terbesar ekspor nonmigas. Produk berbasis minyak nabati, termasuk CPO, merupakan salah satu komoditas ekspor industri pengolahan yang menopang kinerja perdagangan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai sekitar 22,16 miliar dolar AS dengan pertumbuhan sekitar 3,39 persen secara tahunan. Ekspor nonmigas yang menjadi penopang utama pertumbuhan tersebut didorong oleh sektor industri pengolahan, termasuk produk minyak kelapa sawit dan turunannya.

Sementara itu, data perdagangan menunjukkan ekspor Indonesia ke Iran pada Januari 2026 mencapai sekitar 18,5 juta dolar AS. Komoditas yang dikirim mencakup berbagai produk, termasuk lemak dan minyak nabati yang menjadi bagian dari produk sawit serta sejumlah komoditas industri lainnya.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan pemerintah menyiapkan langkah antisipatif untuk meredam dampak ekonomi global akibat konflik tersebut. Ia menjelaskan bahwa eskalasi yang lebih luas, terutama jika berdampak pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, dapat memicu kenaikan harga energi dunia yang kemudian meningkatkan biaya produksi dan distribusi berbagai komoditas perdagangan.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran energi dan perdagangan paling strategis di dunia yang menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan pasar global. Ketegangan di wilayah tersebut dapat mempengaruhi arus kapal dagang internasional serta meningkatkan biaya asuransi dan pengiriman barang.

Pemerintah Indonesia menyatakan terus memantau perkembangan konflik serta menyiapkan langkah mitigasi terhadap potensi gangguan perdagangan internasional. Hingga awal Maret 2026, otoritas ekonomi menilai fundamental perdagangan nasional masih relatif stabil, dengan neraca perdagangan Indonesia yang tetap mencatatkan surplus meskipun ketidakpastian global meningkat.

Tentang Penulis
Arumi Nasha Razeta

Administrator di Berita Trending

Kata Kunci
perdagangan ekspor indonesia sawit 2026 konflik di
Bagikan Artikel